Merajut Asa Pasca-Gempa: Misa Kudus Berbalut Kepedulian untuk Warga Desa Nitung Lea
- 15 hours ago
- 2 min read

Di tengah duka dan puing-puing sisa bencana gempa Flores pada Sabtu (15/08/2026) lalu, setitik harapan kembali disemaikan bagi masyarakat yang terdampak. Berbalut doa dan kepedulian yang mendalam, Tim relawan Komisi Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan (JPIC) SVD Ende, Perkumpulan Relawan Kemanusiaan Flores (TRUK-F), dan suster-suster SSpS merayakan Misa bersama umat di Desa Nitung Lea, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, pada Minggu (23/08/2026). Perayaan Ekaristi Minggu biasa XXI tersebut digelar secara khidmat sebagai wujud dukungan moral sekaligus spiritual untuk menguatkan warga dalam membangkitkan kembali semangat pasca-gempa.
Selain dukungan spiritual, rombongan yang beranggotakan dua pastor, belasan frater SVD, suster-suster SSpS, dan seorang tenaga kependidikan IFTK Ledalero tersebut juga membawa serta bantuan kemanusiaan berupa beras, air mineral, obat-obatan, serta perlengkapan perempuan dan anak-anak bagi para penyintas.
Misa kudus dipimpin oleh Pater Hendrikus Maku, SVD dan Pater Vande Raring, SVD serta dihadiri oleh kurang lebih 100 umat. Perayaan tersebut dilaksanakan di luar ruangan karena kerusakan akibat gempa membuat kapel tidak lagi aman untuk digunakan.
Dalam kata pengantar misa, Pater Hendrik mengatakan bahwa kehadiran para relawan merupakan bentuk perwujudan secara nyata kasih Yesus yang peduli dan solider terhadap musibah atau beban hidup yang dipikul oleh sesama.
“Wajah Tuhan Yesus yang berbelas kasih itulah yang kami hadirkan di tengah-tengah Bapa/Ibu semua,” ujarnya.
Sementara itu, Pater Vande, dalam khotbah, mengungkapkan bahwa para relawan yang datang sebenarnya juga tidak luput dari dampak gempa bumi magnitudo 7,7 yang melanda Pulau Flores. Namun karena cinta, mereka tetap semangat menembus medan untuk membawa harapan bagi para korban di Desa Nitung Lea.
“Kami datang menolong Bapa/Mama bukan karena kami tidak mengalami penderitaan. Namun, penderitaan tidak membuat kami ingat diri. Dalam penderitaan, dalam situasi yang terluka, kami pun ingin mengalami sukacita dan kegembiraan bersama Bapa dan Mama,” ungkapnya.
Di akhir khotbahnya, Pater Vande pun berharap agar api cinta kasih selalu menyala di hati umat. “Gempa tidak boleh mengalahkan iman kita terhadap Tuhan. Penderitaan tidak boleh menghilangkan rasa kasih dan persaudaraan di antara kita. Meskipun susah, semoga hati tetap bernyala. Hati kita tetap bercahaya untuk saling membawa kasih satu terhadap yang lain,” ujarnya.
Setelah perayaan Ekaristi, kegiatan dilanjutkan dengan santap siang bersama dan pembagian bantuan logistik kepada warga setempat.




Comments