Melakukan Hal-hal Sederhana dengan Komitmen dan Cinta yang Besar

Updated: Jan 29


Foto: klik link di bawah untuk mengganti dengan foto anda https://www.twibbonize.com/joseffreinademetz


Komunitas Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero mengadakan Triduum hari ketiga menyongsong Pesta St. Josef Freinademetz di Kapela Agung St. Paulus Ledalero pada Jumat (27/01/2022) Pkl. 19:00. Triduum hari ketiga ini sekaligus menjadi penutupan Triduum yang sudah dimulai sejak Rabu (25/01/2022).


Penutupan Triduum ini dipimpin oleh Fr. Frans Pa Ngita, SVD. Dalam sambutan awalnya Fr. Frans menguraikan tentang kebajikan-kebajikan misioner yang diwariskan oleh St. Josef Freinademetz kepada serikat Sabda Allah (SVD). Fr. Frans juga menegaskan bahwa orang Kudus ini selalu melibatkan Allah dalam segala aspek kehidupan. Allah menjadi asal dan tujuan dari misi perutusan kita di tengah-tengah umat. Oleh sebab itu, sebagai seorang religius, kita seharusnya mulai berpegang pada komitmen-komitmen kita terlebih pada hal-hal yang kecil dan sederhana. Hal ini dapat kita tunjukan melalui sikap dan cara kita berada bersama sebagai sama saudara dalam satu rumah.



Dalam khotbahnya Fr. Frans coba mengingatkan kepada segenap anggota komunitas untuk menaruh perhatian lebih pada hal-hal sederhana dan kecil yang kerapkali diabaikan namun memiliki pengaruh signifikan dalam hidup. Seperti halnya, St. Josef Freinademetz, misionaris sulung SVD di China senantiasa menjaga disiplin religius dan semangat misioner melalui hal-hal sederhana.


"St. Josef Freinademetz dikenal sebagai orang kudus karena komitmennya untuk mewartakan kerajaan Allah, menghadirkan kabar gembira dan menanam nilai cinta kepada umat Allah di China. Tetapi kekudusan sang misionaris sulung dan ulung ini tidak ia mulai dengan langsung menjadi misionaris. Ia mulai memupuk kekudusannya melalui hal-hal sederhana dan kecil. Kekudusanya melekat pada dirinya sebagai seorang manusia biasa yang memulai segala sesuatu dengan hal sederhana namun dengan komitmen dan cinta yang besar", tegas Fr. Frans.



Fr. Frans juga menerangkan bahwa St. Josef Freinademetz adalah pribadi sederhana yang pergi ke tanah misi bukan untuk mengajar, mendikte, atau memaksa orang untuk bertobat melalui retorika-retorika indah. Melainkan ia justru pertama-tama menghadirkan diri sebagai orang yang sadar konteks. Ia belajar bahasa setempat, hidup dengan cara hidup setempat, mengenakan pakaian tradisional dan melayani masyarakat China dengan sepenuh hati. Ia mengaplikasikan suatu model pewartaan interkultural yang bersandar pada salib. Model pewartaan ini menjadikannya satu dengan semua orang China. Ia tidak menjadi asing lebih-lebih neraka yang mengganggu kemapanan hidup masyarakat setempat.


Di akhir khotbahnya, Fr. Frans Ngita, SVD mengajak segenap anggota komunitas yang hadir untuk terus meneladani sosok misionaris sulung St. Josef Freinademetz yang sederhana dan berjiwa besar dalam bermisi. Sekalipun dalam bermisi selalu ada kesulitan dan rintangan yang menghantui kita, kita tidak perlu takut dan cemas. Kita harus terus melangkah dan berserah pada Dia yang mengutus kita. Untuk menutup khotbahnya Fr. Frans mengutip salah satu kalimat St. Josef Freinademetz yang berbunyi: “Makanan seorang misionaris adalah Salib Kristus.”* (Fr. Liano, SVD)



480 views0 comments