Triduum St. Yosef Freinademetz Hari Kedua: Meneguhkan Hidup Bersama dalam Komunitas Interkultural
- seminaritinggileda
- 2 hours ago
- 2 min read

“Kita semua telah menyebut diri sebagai orang-orang terpanggil oleh karena iman akan Tuhan yang satu dan sama untuk mengambil bagian dalam misi-Nya di tengah dunia dalam sebuah Serikat misioner, Serikat Sabda Allah.”
Ungkapan ini membuka Triduum hari kedua menyongsong Pesta Santo Yosef Freinademetz di Kapela Agung Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero, Senin (27/1).
Baca juga:
Triduum hari kedua dipimpin oleh Frater Bona Sampurna, SVD, dan diikuti oleh seluruh anggota komunitas Seminari unit dalam. Tema Satu Iman, Satu Tuhan, Satu Komunitas Interkultural mengajak komunitas untuk menengok kembali kehidupan bersama sebagai ruang nyata panggilan dan perutusan.
Dalam pengantarnya, Frater Bona menegaskan bahwa hidup sebagai misionaris SVD berakar pada iman yang sama dan dihidupi dalam kebersamaan.
“Kita semua telah menyebut diri sebagai orang-orang terpanggil oleh iman akan Tuhan yang satu dan sama,” ujarnya, seraya mengingatkan bahwa panggilan itu tidak dijalani secara individual, melainkan dalam satu serikat misioner.
Santo Yosef Freinademetz ditampilkan sebagai teladan iman yang menyala dan bertahan dalam kesetiaan. Sebagai misionaris pertama SVD, Freinademetz memperlihatkan spiritualitas yang kokoh, yang bertumbuh dari relasi iman yang mendalam dalam doa dan pelayanan.
“Api spiritualnya tak pernah padam oleh karena relasi iman yang tak pernah pupus dalam doa dan semangat pelayanan demi pewartaan Kerajaan Allah,” kata Frater Bona.
Dalam refleksi yang disampaikannya, Frater Bona menggarisbawahi kehidupan komunitas religius sebagai sebuah persekutuan yang dibangun di atas kesadaran iman yang sama. Ia mengingatkan bahwa setiap anggota komunitas hadir dengan latar belakang, tugas, dan tanggung jawab yang berbeda, namun semuanya diarahkan pada satu tujuan perutusan.
“Tidak ada seorang pun yang hidup bagi dirinya sendiri,” katanya. Karena itu, kehidupan komunitas menjadi ruang di mana perbedaan diolah menjadi kekuatan bersama, dan setiap pribadi dipanggil untuk saling menopang demi keberlangsungan misi.
Pengalaman misi Santo Yosef Freinademetz di Cina menjadi cermin kesetiaan yang konkret. Ia menghadapi medan misi yang berat, berpindah tempat, membangun komunitas dari awal, serta hidup dalam ancaman penganiayaan.
Namun, ia memilih tetap tinggal bersama umat yang dilayaninya. Keteguhan itu berakar pada Sabda Tuhan yang dihidupinya, terutama ajakan Kristus untuk menyangkal diri dan memikul salib.
Dalam konteks kehidupan komunitas interkultural dewasa ini, Frater Bona juga mengajak komunitas untuk jujur melihat tantangan hidup bersama. Perbedaan latar belakang budaya, cara pandang, dan kebiasaan sehari-hari menuntut keterbukaan dan kedewasaan iman.
“Sebagai satu tubuh dalam komunitas misioner Serikat Sabda Allah, kita dipanggil untuk terus menata diri dan komunitas,” tegasnya.
Triduum hari kedua ini menjadi ajakan untuk kembali menyalakan api spiritual, meneguhkan komitmen hidup bersama, dan membiarkan Sabda Allah menjadi roh yang menggerakkan kehidupan komunitas dan karya misi.
Dalam terang teladan Santo Yosef Freinademetz, hidup komunitas dipahami bukan sekadar tempat tinggal bersama, melainkan medan perutusan yang menuntut kesetiaan, pengorbanan, dan cinta yang terus diperbarui.*
*Fr. Febry Suryanto, SVD
-



Comments