top of page

Triduum Hari Pertama Menyongsong Pesta Santo Yosef Freinademetz di Ledalero


Suasana Triduum menyongsong Pesta Santo Yosef Freinademetz di Kapela Agung Ledalero, diikuti oleh komunitas Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero.
Suasana Triduum menyongsong Pesta Santo Yosef Freinademetz di Kapela Agung Ledalero, diikuti oleh komunitas Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero.

Komunitas Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero memulai rangkaian Triduum menyongsong Pesta Santo Yosef Freinademetz, misionaris pertama Serikat Sabda Allah (SVD), di Kapela Agung Ledalero.


Baca juga:


Triduum ini diikuti oleh seluruh anggota komunitas yang tinggal di dalam kompleks seminari, sementara para frater yang berada di unit-unit luar mengikuti triduum di unit masing-masing.


Triduum hari pertama dipimpin oleh Fr. Edi Soge, SVD. Dalam bagian pengantar, ia menegaskan bahwa Santo Yosef Freinademetz dihadirkan dalam triduum ini bukan sebagai figur pelindung, melainkan sebagai misionaris pertama SVD yang memberi arah dasar bagi spiritualitas dan semangat perutusan tarekat.


Triduum menjadi ruang untuk kembali menimba inspirasi dari akar hidup misi yang telah diwariskan sejak awal.


Sementara dalam renungannya, Fr. Edi mengajak komunitas untuk menatap perjalanan hidup Freinademetz sebagai kisah iman yang tumbuh dari keberanian meninggalkan zona aman dan kesiapsediaan untuk dibentuk oleh tempat perutusan.


Hidup misioner, ditegaskannya, bukan soal prestasi atau hasil yang tampak, melainkan tentang kesetiaan untuk hadir dan berjalan bersama umat.


Freinademetz digambarkan sebagai sosok yang datang dengan kerendahan hati: belajar bahasa, menyelami budaya, dan membiarkan Injil berakar dalam kehidupan konkret orang-orang yang dilayaninya. Dalam semangat itu, misi tidak dijalani dari jarak aman, tetapi dari kedekatan yang nyata dan penuh empati.


“Menjadi misionaris berarti bersedia dibentuk oleh tanah perutusan dan oleh orang-orang yang kita layani,” tegasnya.


Melalui triduum ini, komunitas Ledalero diajak menata kembali cara memandang panggilan hidup misioner sebagai jalan memberi diri, bukan mencari kenyamanan; sebagai proses belajar seumur hidup, bukan sekadar tugas sementara.


Sosok Santo Yosef Freinademetz dihadirkan sebagai teladan iman yang sederhana, setia, dan membumi. Iman yang tumbuh dalam kesunyian kerja sehari-hari dan ketekunan berjalan bersama umat.


Rangkaian triduum ini akan berlanjut pada hari-hari berikutnya sebagai bagian dari persiapan rohani menuju Pesta Santo Yosef Freinademetz, dengan harapan agar semangat misi yang sama terus dihidupi dalam kehidupan dan karya komunitas.


 
 
 

Comments


VISITOR 

Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero

average rating is 3 out of 5, based on 150 votes, Penilaian produk
bottom of page