Katekese di Paroki St. Yoseph Bajawa Berjalan Baik Meski Diwarnai Berbagai Dinamika
- seminaritinggileda
- 4 days ago
- 2 min read

Kegiatan katekese di Paroki St. Yoseph Bajawa berjalan dengan sangat baik. Tema yang diangkat mengikuti bahan katekese Keuskupan Agung Ende, yakni “Keluarga sebagai Dasar Pembentukan Iman Anak Usia Dini.”
Meski dalam pelaksanaannya terdapat berbagai dinamika dan variasi di setiap lingkungan, secara umum katekese ini dapat dikatakan berlangsung dengan sukses.
Secara jadwal, katekese direncanakan berlangsung selama dua hari. Namun, dalam praktiknya beberapa lingkungan memilih alternatif lain sesuai dengan situasi setempat. Ada lingkungan yang melaksanakan katekese selama tiga hari, bahkan hingga lima hari.
Penyesuaian ini dilakukan berdasarkan jumlah KUB serta ketersediaan dan kesiapan umat. Beberapa lingkungan sepakat untuk menggabungkan beberapa KUB dalam satu pertemuan, sementara lingkungan lain memilih untuk bertemu secara terpisah di setiap KUB.
Para frater selalu siap menyesuaikan diri, mengingat pengaturan ini merupakan permintaan langsung dari umat di lingkungan tempat mereka tinggal. Bahkan, di beberapa lingkungan umat meminta agar katekese dilakukan oleh lebih dari satu frater, dengan tujuan agar umat dapat mengenal semua frater yang hadir dan tinggal bersama mereka.
Antusiasme umat dalam mengikuti katekese terlihat beragam di setiap lingkungan. Perbedaan ini tampak dari tingkat kehadiran dan keaktifan umat selama kegiatan berlangsung.
Ada lingkungan yang umatnya hadir dalam jumlah besar namun kurang aktif dalam berdiskusi, sementara di lingkungan lain jumlah peserta lebih sedikit tetapi suasana katekese sangat hidup. Ada pula lingkungan yang menunjukkan antusiasme tinggi sejak awal, namun ada juga yang terkesan kurang peduli.
Meski secara umum dinilai berhasil, pelaksanaan katekese ini tidak lepas dari berbagai tantangan. Salah satu tantangan utama adalah kenyataan bahwa umat Paroki St. Yoseph Bajawa belum terbiasa dengan kunjungan frater dan kegiatan katekese seperti ini. Hal tersebut tampak dalam suasana katekese yang pada awalnya cenderung kaku dan penuh kehati-hatian.
Umat sering kali terlihat canggung untuk berbicara, sehingga para frater perlu mengolah cara bertanya dan menyampaikan materi agar umat berani menyampaikan pendapat dan pengalaman mereka.
Tantangan lain yang cukup menonjol adalah minimnya kehadiran kaum remaja dan bapak-bapak. Dalam sebagian besar lingkungan, peserta katekese didominasi oleh kaum ibu dan anak-anak. Selain itu, tantangan juga datang dari pihak frater sendiri.
Meskipun sudah terbiasa melakukan kunjungan pastoral, harus diakui bahwa masih ada frater yang merasa gugup saat memimpin katekese. Hal ini terkadang memengaruhi kelancaran kegiatan, meskipun pada akhirnya katekese tetap dapat dilaksanakan hingga selesai.
Satu fenomena menarik yang hampir selalu terjadi adalah meningkatnya antusiasme umat justru setelah kegiatan katekese berakhir. Seusai katekese, umat biasanya menyiapkan jamuan sederhana atau nalo (dalam bahasa Bajawa) bagi para frater dan umat yang hadir.
Pada momen inilah suasana menjadi lebih cair. Umat yang sebelumnya canggung mulai berani mengajukan pertanyaan dan berbagi pengalaman. Pertanyaan-pertanyaan yang sebelumnya “tersangkut di tenggorokan” saat katekese, justru mengalir dengan lancar dalam suasana santai ini. Hal tersebut menunjukkan bahwa kecanggungan umat lebih disebabkan oleh ketidakbiasaan dengan kunjungan frater dan kegiatan katekese.
Secara keseluruhan, kegiatan katekese di Paroki St. Yoseph Bajawa berjalan dengan baik. Berbagai dinamika dan tantangan yang ditemui selama pelaksanaan katekese menjadi pembelajaran dan pengalaman berharga bagi para frater dalam menjalani pelayanan pastoral bersama umat.*
*Fr. Emon Doa, SVD




Comments