Tuhan Sudah Bangkit; Potret Perayaan Malam Paskah Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero
- 4 days ago
- 3 min read

“Perayaan Paskah bukan saja sebuah seremoni tahunan yang rutin dijalankan, melainkan juga medan refleksi tentang konsekuensi dari salib. Ia tidak berhenti pada perayaan liturgis, tetapi juga menjadi momentum yang mempertegas keberpihakan Tuhan atas manusia.”
Waktu baru saja menunjukkan pukul 18.30 ketika rombongan imam, putra-putra altar, dan beberapa frater berkumpul di depan Kapela Agung Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero untuk merayakan Misa Malam Paskah.
Di dalam kapela, sebagian besar umat telah lebih dahulu mengambil tempat dan memenuhi ruangan. Mereka bersiap menyambut rombongan imam yang akan masuk sambil membawa lilin, medium simbolik yang melambangkan cahaya kebangkitan Kristus.
Perayaan Malam Paskah kemudian dimulai dengan upacara pemberkatan api, dilanjutkan dengan doa pembuka dan perarakan Lilin Paskah menuju Kapela Agung. Nuansa gelap yang sebelumnya menyelimuti area kapela dan sekitarnya perlahan hilang, terusir oleh nyala lilin-lilin yang dinyalakan umat.
Malam itu, Sabtu, 4 April 2026, umat merayakan kebangkitan Yesus Kristus. Misa Kudus dipimpin oleh Pater Yosef Keladu, SVD, bersama Pater Kris Ibu, SVD, dan Pater Wilhelm Djulei, SVD.
Mengusung tema “Tuhan Sungguh Bangkit”, perayaan ini mengantar umat pada permenungan yang lebih utuh atas misteri inkarnasi Kristus. Misteri ini tidak berhenti pada kelahiran dan wafat, tetapi menemukan kepenuhannya dalam peristiwa kebangkitan.
Dalam khotbahnya, Pater Yosef Keladu, SVD, mengaitkan harapan kebangkitan dengan salah satu fenomena zaman, yakni perdagangan manusia, yang sebelumnya juga direfleksikan secara teatrikal dalam pentas Paskah pada hari Selasa.
Baginya, kebangkitan Kristus harus menjadi inspirasi untuk terus membangun keberpihakan kepada sesama, terutama para korban perdagangan manusia dan kelompok-kelompok rentan lainnya.
Perayaan Ekaristi malam itu juga dimeriahkan oleh Ledalero Choir, kelompok koor inti Seminari Tinggi Ledalero yang mewadahi bakat bernyanyi para frater. Koor yang terdiri dari frater tingkat satu, dua, tiga, dan lima ini membawakan lagu-lagu liturgi dengan baik dan penuh penghayatan.
Lantunan lagu yang mereka persembahkan menciptakan suasana yang sakral sekaligus meriah, menghadirkan tidak hanya dimensi teologis dan liturgis, tetapi juga dimensi estetis dalam perayaan.
Amanat sabda yang inspiratif, suasana liturgi yang sakral, hospitalitas komunitas, serta penampilan koor yang memukau, menjadikan perayaan Malam Paskah di Seminari Tinggi Ledalero selalu menghadirkan kesan tersendiri bagi umat. Hal ini juga diungkapkan oleh beberapa umat yang hadir.
Ibu Melly, salah seorang umat dari Maumere, mengatakan bahwa Ledalero selalu menghadirkan suasana perayaan yang berbeda. Ia juga berpesan kepada para frater untuk tetap setia dalam panggilan mereka.
“Para frater harus selalu setia dalam panggilan. Itu pesan Paskah dari saya,” ujarnya sambil tersenyum.
Salah satu umat yang turut hadir dalam perayaan ini adalah Bupati Sikka. Ia berharap momentum Paskah menjadi landasan inspiratif bagi tumbuhnya semangat karya dan pelayanan dalam diri para anggota SVD.
Ia juga mengapresiasi semua pihak yang telah berkontribusi dalam menciptakan suasana perayaan yang khidmat, baik para imam, anggota koor, petugas liturgi, maupun mereka yang bekerja di balik layar.
Perayaan Vigili Paskah berakhir sekitar pukul 20.45. Suasana sukacita yang menjadi ciri khas malam Paskah semakin terasa dalam kebersamaan umat.
Mereka saling berjabat tangan, berpelukan, dan mengucapkan selamat Paskah. Beberapa di antaranya juga mengabadikan momen tersebut bersama keluarga maupun para frater.
Nuansa sakral dalam Ekaristi berpadu dengan kehangatan kebersamaan seusai perayaan. Pada akhirnya, Paskah bukan hanya perayaan tahunan, melainkan juga ruang refleksi yang mengajak umat untuk memahami kembali makna salib dan kebangkitan sebagai tanda nyata keberpihakan Tuhan kepada manusia.
*Fr. Brury Peamole, SVD.




Comments