• SEMINARI TINGGI ST. PAULUS LEDALERO

Unit Mikhael Gelar Diskusi Bertema Filsafat dan Sastra


PAPARKAN MATERI - Pater Felx Baghi saat memaparkan materi dalam diskusi bertema Sastra dan Filsafat.



Seminariledalero.org - Unit Mikhael, salah satu unit formasi di Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero, mengadakan diskusi dengan tema Filsafat dan Sastra, Rabu malam, (28/10/2020). Diskusi ini berlangsung di kamar makan Unit Mikhael. Pemateri diskusi ini adalah Pater Dr. Felix Baghi, SVD.


Mengawali diskusi tersebut, seluruh peserta kegiatan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan mengucapkan isi Sumpah Pemuda, karena kegiatan ini diadakan dalam rangka memperingati Bulan Bahasa dan Hari Sumpah Pemuda.


Selanjutnya, moderator membagi kegiatan ini dalam beberapa bagian, yaitu pemaparan materi, pertanyaan kemudian diskusi, dan penutup.


Pater Felix Baghi, pada awal pemaparan menegaskan bahwa materi yang dibawakan adalah semacam sharing intelektual tentang dua dunia yang berbeda, yakni filsafat dan sastra. Ia sendiri tidak mengetahui apakah dirinya terlalu berani untuk berbicara tentang dunia yang berbeda ini.


Namun, yang jelas bahwa perbedaan tidak berarti suatu pertentangan. Sebagai dosen yang mengajar Filsafat Estetika di STFK Ledalero, ia coba membagikan pengalaman dan refleksi sejauh dapat.


Pater Felix memaparkan materi dalam tiga bagian penting. Bagian pertama adalah filsafat dan sastra. Menurutnya, filsafat bukan cabang dari sastra. Filsafat memiliki dunia tersendiri.


“Jika ada seorang filsuf yang menulis baik, atau ada filsuf yang karya-karyanya sangat sastrawi, boleh jadi itu adalah bonus yang menyebabkan filsafatnya memiliki daya tarik, namun itu berarti ia adalah seorang seniman,” paparnya.


Penulis buku Pluralisme, Demokrasi dan Toleransi ini mengakui bahwa ia berkenalan dengan tradisi filsafat sejak ia berkecimpung sebagai mahasiswa di STFK Ledalero, Universitas Leuven-Belgia, Universitas Gregoriana Roma, maupun di Universitas Santo Tomas Manila.


Ia mendengar banyak dari guru filsafat klasik yang mengajar tentang Plato, Aristoteles, Hegel, Kant, Heidegger, Derrida, dan Ricoeur. Dari sana ia melihat bahwa filsafat lebih banyak berurusan dengan kerja mengklarifikasi dan menjelaskan.


Sedangkan mengenai sastra, ia menegaskan bahwa sastra merupakan seni. Sastra sebagai bagian dari seni lebih banyak digandrungi. Kekhasan sastra menurutnya, tidak terletak pada panjang atau pendeknya suatu tulisan, tetapi pada eksplorasi kata dan diksi yang penuh dengan metafora, analogi atau perumpamaan.


Lebih lanjut ia menegaskan bahwa karya filosofis bukan sekadar suatu self-expression. Ia lebih merupakan cetusan disiplin akademik yang reflektif dan menjadi semburan suara personal yang mendalam.


“Baik filsafat maupun sastra, keduanya menyuarakan transformasi. Ada semacam prufikasi yang lahir dari argumen dan diksi,” terangnya.


Karya sastra, lanjutnya, secara bebas memberikan ruang bagi orang untuk bereksplorasi. Sedangkan karya filosofis mengundang orang untuk mengklarifikasi, menjelaskan dan memaknai suatu ide.


Jika seorang seniman menciptakan imajinasi dengan daya kreasi, maka seorang filsuf menjelaskan imajinasi melalui daya argumentasi yang valid.


“Sastra adalah karya seni, a work of art, sementara filsafat adalah a work of thinking” tegasnya.


Pada bagian kedua, ia memaparkan tentang politik dan sastra. Menurut Pater Felix, berbicara tentang hubungan antara politik dan sastra berarti berbicara tentang hal yang lebih aplikatif.


Baginya, politik adalah aksi, sedangkan sastra adalah praksis imajinatif. Kekuatan transformasi dalam sastra dan kemampuan imajinasi kreatif, sebaiknya lahir dari inspirasi keterjalinan dengan kejadian-kejadian hidup.


“Demokrasi dan nilai-nilainya tidak sekadar diidentikan dengan sebuah negara. Demokrasi bukan representasi dari hierarki. Menulis secara demokratis berarti menulis tentang sesuatu sebagaimana adanya,” tambahnya.


Selanjutnya, pada bagian ketiga ia berbicara tentang menulis dari kehidupan. Ia mengaskan bahwa karya sastra yang kreatif adalah karya terbuka terhadap dunia konfigurasi makna yang baru, meskipun terkadang konfigurasi itu membawa kejutan akan hal-hal yang tidak terduga.


“Karya sastra dan puisi adalah karya yang mengandung banyak metafora dan narasi tentang kehidupan ini. Sebuah esai sastra sebaiknya lahir dari pesan-pesan yang mengalir dari arus kehidupan ini, dan tugas penulis adalah membawa setiap pesan kehidupan ke dalam metafora, mendapatkannya melalui diksi yang tepat dan merangkainya menjadi suatu inovasi semantik yang inspiratif,” terangnya.


Sastra ‘Berbahaya’


Setelah pemaparan materi, Frater Paskal Kedang selaku moderator memberikan kesempatan kepada hadirin untuk bertanya terkait materi yang telah dipaparkan.

Frater Krisna menanyakan tentang keberadaan sastra yang dianggap ‘berbahaya’ karena mampu membongkar kehidupan manusia.


“Jikalau sastra itu berbahaya, kenapa banyak orang di dunia ini menyukai sastra?” tanyanya.

Terhadap pertanyaan ini, Pater Felix menjelaskan bahwa berbahaya yang dimaksudkan tidak dalam arti negatif tetapi berbahaya yang memiliki daya tarik.


Menurutnya sastra dikatakan berbahaya dalam konteks kekuasaan. Rendra, seorang kritikus sosial, dalam beberapa karyanya sangat berbahaya terhadap otoritas kekuasaan yang mapan. Ia berani menelanjangi kebenaran atau membongkar segala sesuatu yang selama ini selalu ditutup-tutup oleh otoritas kekuasaan. Heidegger menyebutnya sebagai aletheia.


Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa seniman itu berbicara apa adanya. Karya mereka seperti senjata yang menembak kekuasaan. Namun, sastra juga berbahaya bagi sastrawan jika berhadapan dengan kekuasaan yang otoriter. Sastrawan bisa dipenjarakan.


Selanjutnya, Frater Teos, Frater Febry, Frater Paskal, dan Frater Risto mengajukan pertanyaan seputar keberanian para sastrawan membongkar kemapanan atau berani menyuarakan sesuatu yang dianggap pemali oleh sebagian masyarakat.


Terkait keberanian sastrawan, Pater Felix menjelaskan bahwa ketika seni dilemparkan ke ruang publik, maka ia mengajarkan suatu nilai. Tetapi nilai tersebut tergantung dari penafsir. Standar nilai itu sendiri tergantung pada tiga level yang berbeda: pertama, si pencipta, kedua, karya itu sendiri, dan ketiga para penikmat.

“Boleh jadi penikmat menafsir lebih jauh dari apa yang dimaksudkan oleh pencipta, bahkan berbeda jauh dari apa yang dimaksudkan oleh pencipta. Jadi, ketika seorang sastrawan dianggap menggunakan kata-kata membongkar kemapanan, mungkin maksudnya berbeda dengan apa yang kita pikirkan,” jelas Pater Felix.


Apresiasi


Pada akhir pertemuan, Frater Teos selaku ketua unit mengatakan bahwa materi yang telah dipaparkan dan juga jawaban atas setiap pertanyaan yang diberikan amatlah berguna dalam menekuni dunia filsafat dan sastra.


Frater Teos mengapresiasi kepada Pater Felix karena sudah membagikan materi yang berharga bagi segenap anggota Unit Mikhael. Ia mendorong segenap anggota unit untuk berani menulis dari kehidupan bahwa hidup tidak hanya dijalani, tetapi harus dikisahkan. Life is not only lived, but also told.


Penulis: Febry Suryanto

40 views

Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero

@2017 | Design by CH95 Website Design

VISITOR 

  • Facebook Social Icon
  • Google+ Social Icon
  • Twitter Social Icon