top of page

Uskup Agung Ende Pimpin Misa Dies Natalis ke-94 IFTK Ledalero, Serukan Kebijaksanaan yang Membebaskan

  • Apr 17
  • 2 min read

Uskup Agung Ende menyampaikan homili dalam Perayaan Ekaristi Dies Natalis ke-94 IFTK Ledalero di Auditorium St. Thomas, Jumat (17/4/2026) sore.
Uskup Agung Ende menyampaikan homili dalam Perayaan Ekaristi Dies Natalis ke-94 IFTK Ledalero di Auditorium St. Thomas, Jumat (17/4/2026) sore.

Suasana khidmat dan penuh syukur terasa di Auditorium St. Thomas, Ledalero, Jumat (17/4/2026) sore. Keluarga besar Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero berkumpul dalam perayaan Ekaristi Dies Natalis ke-94.


Perayaan ini dipimpin oleh Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD, didampingi puluhan imam, serta dihadiri seluruh mahasiswa, dosen, dan civitas akademika.


Sejak awal, perayaan berlangsung dengan khidmat. Koor dalam perayaan ini dibawakan oleh mahasiswa Program Studi Sistem Informasi.


Kehadiran seluruh civitas akademika memberi kesan bahwa perayaan ini bukan sekadar seremoni institusional, melainkan momentum bersama untuk merawat identitas dan arah perjalanan lembaga.


Dalam pengantar misa, Mgr. Budi mengajak umat untuk melihat Dies Natalis sebagai kesempatan untuk kembali ke akar.


“Merayakan Dies Natalis merupakan kesempatan yang indah untuk menghaturkan syukur kepada Tuhan dan mengucapkan terima kasih kepada semua yang telah bekerja keras dalam sejarah lembaga ini,” ujarnya.


Ia juga menekankan pentingnya pembaruan komitmen agar seluruh keluarga besar IFTK tetap berjalan dalam tuntunan Roh kebijaksanaan.


Tema “Kebijaksanaan yang Membebaskan” mendapat penekanan kuat dalam homili uskup. Ia berbicara langsung dan lugas tentang situasi dunia yang, menurutnya, tidak kekurangan orang pintar, tetapi sering kekurangan orang bijak.


“Dunia butuh orang-orang bijak yang tidak mempertaruhkan kehidupan jutaan manusia karena ambisi pribadi yang tak terkontrol,” katanya.


Ia menilai, ruang publik saat ini lebih mudah memberi tempat bagi mereka yang punya kuasa, kekayaan, atau popularitas, sementara suara orang bijak sering kali terpinggirkan.


Dalam konteks itu, ia melihat lembaga seperti IFTK Ledalero memiliki peran penting. Kampus tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga diharapkan melahirkan pribadi yang mampu membaca realitas dengan jernih.


Ia bahkan menyinggung sosok Dr. Otto Gusti Madung sebagai salah satu contoh intelektual yang menghidupi kebijaksanaan.


Mgr. Budi kemudian menawarkan tiga hal penting sebagai jalan menuju kebijaksanaan: merawat ingatan (memoria), mempertajam visi, dan berani mengambil langkah pertobatan (conversio).


“Kita bergerak menuju kebijaksanaan ketika kita berani belajar dari masa lalu, menatap masa depan dengan harapan, dan mengambil langkah konkret untuk berpihak pada yang menderita,” ujarnya.


Ia juga mengingatkan bahwa kebijaksanaan tidak selalu “laku” dalam logika pasar atau politik, tetapi tetap penting sebagai dasar dalam mengelola hidup bersama.


Sementara dalam sambutannya menjelang akhir perayaan, Rektor IFTK Ledalero, Pater Otto Gusti Madung, SVD, mengajak seluruh civitas akademika kembali pada identitas dasar lembaga yang dirumuskan dalam konsep verbum: veritas, educatio, ratio, bonitas, universalitas, dan misericordia.


“IFTK Ledalero tidak hanya dibangun di atas tradisi akademik, tetapi juga di atas fondasi Sabda,” ujarnya.


Ia menegaskan bahwa arah pengembangan lembaga ke depan, sebagaimana tertuang dalam Rencana Induk Pengembangan 2025-2045, tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai tersebut.


Menurutnya, penguatan mutu, reputasi, hingga jejaring internasional hanya akan berarti jika berakar pada kebenaran, kebaikan, keterbukaan, dan belas kasih.


“Seluruh arah strategis ini hanya akan memiliki makna sejati jika dihidupi dalam terang nilai-nilai verbum,” katanya.


Ia juga mengingatkan bahwa pendidikan tinggi tidak boleh berhenti pada capaian administratif atau publikasi ilmiah semata.


“Penelitian dan pengabdian kita harus menghadirkan perubahan konkret bagi masyarakat,” ujarnya.


Perayaan ini menjadi penanda bahwa perjalanan panjang IFTK Ledalero tidak hanya diukur dari usia, tetapi juga dari kesetiaan pada nilai yang dihidupi.


Di tengah berbagai tantangan zaman, institusi ini diingatkan untuk tetap menjadi ruang di mana kebijaksanaan dirawat, tidak hanya dipelajari, tetapi juga dijalani.*


*Fr. Febry Suryanto, SVD.



 
 
 

Comments


VISITOR 

Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero

average rating is 3 out of 5, based on 150 votes, Penilaian produk
bottom of page