top of page

Misa Tutup Tahun di Ledalero: Mensyukuri Anugerah dan Melangkah dalam Terang Firman


Suasana Misa Tutup Tahun 2025 Komunitas Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero yang berlangsung khidmat di Kapela Agung Ledalero, Rabu (31/12) malam. Ekaristi syukur ini diikuti para frater, formator, serta umat.
Suasana Misa Tutup Tahun 2025 Komunitas Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero yang berlangsung khidmat di Kapela Agung Ledalero, Rabu (31/12) malam. Ekaristi syukur ini diikuti para frater, formator, serta umat.

Komunitas Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero menutup Tahun 2025 dengan perayaan Ekaristi syukur yang berlangsung khidmat di Kapela Agung Ledalero, Rabu (31/12) malam.


Misa Tutup Tahun ini menjadi momentum refleksi iman, syukur, dan peneguhan harapan menjelang Tahun Baru 2026.



Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Pater Leo Kleden, SVD, yang dalam homilinya mengajak seluruh anggota komunitas untuk memandang kembali perjalanan hidup sepanjang tahun dalam terang Sabda Allah yang menjelma.


Liturgi dilayani oleh frater-frater dari Unit Efrata-Gere, sementara koor dibawakan oleh para frater Unit Gabriel, yang menghidupkan suasana doa melalui lagu-lagu liturgis bernuansa syukur dan pengharapan.


Dalam homilinya, Pater Leo membagi refleksi akhir tahun ke dalam dua bagian utama. Bagian pertama mengajak umat mensyukuri anugerah Tuhan dalam Sabda yang menjelma, sementara bagian kedua menegaskan makna merayakan hidup dalam terang Firman.


Ia memulai refleksinya dengan sebuah kisah sederhana tentang seorang anak kecil bernama Miriam, putri seorang pengusaha intan di Antwerpen, Belgia.


Melalui pengalaman kehilangan dan kesedihan, sang anak justru menyadarkan ayahnya bahwa intan dan permata, betapapun berharga, pada hakikatnya hanyalah batu.


Kisah ini, menurut Pater Leo, menjadi cermin bagi manusia modern yang kerap memberi nilai berlebihan pada hal-hal yang fana.


“Kadang-kadang justru seorang anak yang polos menyadarkan kita untuk kembali melihat samudra kehidupan dengan mata yang baru,” ungkapnya.


Ia mengajak umat untuk menepi sejenak dari kesibukan sepanjang tahun, dari rutinitas kerja, studi, dan pelayanan, untuk kembali menemukan makna hidup yang lebih dalam.


Rasa syukur, menurutnya, lahir ketika manusia menyadari bahwa hal-hal paling mendasar dalam hidup, udara, cahaya matahari, tanah yang dipijak, kasih, dan kesetiaan, adalah anugerah yang tidak pernah dibeli dengan uang.


Lebih jauh, Pater Leo menegaskan bahwa anugerah terbesar yang patut disyukuri adalah kehadiran Allah sendiri, Sang Imanuel, yang setia menyertai manusia dalam setiap situasi hidup.


Dalam konteks hidup religius, ia juga mengajak para anggota Serikat Sabda Allah (SVD) untuk bersyukur atas panggilan misioner yang telah berkembang dari karya sederhana Arnold Janssen menjadi tarekat misi yang kini berkarya di puluhan negara.


Ledalero, lanjutnya, adalah saksi sejarah karya itu, dari sebuah bukit yang gersang menjadi taman kehidupan, berkat benih Sabda yang ditanam dengan setia oleh para misionaris perintis.


Memasuki bagian kedua homili, Pater Leo mengajak umat merenungkan Prolog Injil Yohanes: “Pada mulanya adalah Firman.” Firman bukan sekadar awal waktu, melainkan dasar dan prinsip kehidupan.


Ia menekankan empat kata kunci dalam Prolog tersebut: hidup, terang, kebenaran, dan kasih karunia.


Firman, katanya, adalah sumber hidup sejati dan terang yang menghalau kegelapan manusia. Di tengah dunia yang sering diliputi kebohongan dan penyalahgunaan kuasa, hanya kebenaran yang membebaskan dan memberi hidup. Kasih karunia Allah menjadi dasar seluruh misteri keselamatan yang dirayakan dalam Ekaristi.


“Sabda telah menjadi daging dan tinggal di antara kita. Dalam terang Firman itulah kita melangkah memasuki tahun yang baru,” ujarnya.


Misa Tutup Tahun ini tidak hanya menjadi ungkapan syukur atas perjalanan Tahun 2025, tetapi juga peneguhan iman dan harapan untuk menyongsong Tahun Baru 2026. Dalam suasana doa yang hening dan penuh makna, seluruh komunitas diajak untuk melanjutkan ziarah hidup dengan iman yang jernih, kasih yang setia, dan harapan yang terus diperbarui.


Perayaan ditutup dengan ucapan selamat menyongsong Tahun Baru, diiringi doa agar Firman Tuhan terus menjadi terang bagi perjalanan hidup dan panggilan setiap anggota komunitas di tahun yang akan datang.*


*Fr. Febry Suryanto, SVD


 
 
 

Comments


VISITOR 

Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero

average rating is 3 out of 5, based on 150 votes, Penilaian produk
bottom of page