top of page

OMK Stasi Bei dan Para Frater Unit Mikael Ledalero Gelar Pentas Musik dan Teater: Raih Puluhan Juta untuk Renovasi Kapela Stasi

Para Aktor dan Aktris Teater “Ketika Tuhan Bangkit” Sedang Berdiri sambil Memegang Obor yang Menjadi Simbol Terang dalam Teater.

Ledalero – Bersama para Frater Unit Mikael Ledalero, Orang Muda Katolik (OMK) St. Maria Fatima Bei - Nara menggelar konser musik dan teater pada Sabtu (04/05/2024). Digelar di halaman Sekolah Dasar Katolik (SDK) Nara, konser musik dan teater berjudul “Ketika Tuhan Bangkit” itu bertujuan untuk menggalang dana renovasi bagi Kapela St. Maria Fatima Bei - Nara.



Umat Stasi Bei - Nara yang terdiri dari 7 (tujuh) lingkungan sangat antusias menyukseskan terselenggaranya pementasan tersebut sejak dari pembentukkan panitia. Mereka juga menyediakan segala keperluan yang bertalian dengan pementasan. Di samping itu, mereka juga terlibat aktif selama latihan yang dilakukan setiap hari Jumat dan Sabtu, serta hari-hari libur, selama satu bulan.


Para Frater Unit Mikael Sedang Membersihkan Kursi-kursi untuk Digunakan pada Acara Pementasan.

“Setiap kali mereka (anggota teater) latihan, kami, mama-mama yang bertempat tinggal di sekitar SDK Nara ini berkumpul di rumah bapak Ketua Stasi untuk masak buat para Frater dan OMK. Kadangkala, kami masak di rumah masing-masing, lalu mengantar masakan kami ke rumah Ketua Stasi untuk makan bersama anak-anak Frater di sana. Semua itu merupakan bentuk antusias dan semangat umat dalam menyambut acara pementasan konser musik dan teater untuk menggalang dana renovasi Kapela,” tutur Ibu Melan (36), guru SDK Nara.



Selain itu, untuk makan malam saat pementasan, panitia dan umat setiap KUB bersepakat untuk menyiapkan 100 kotak nasi, sehingga terkumpul sebanyak 1000 kotak nasi. Rinciannya, 700 kotak nasi disiapkan oleh umat setiap lingkungan dan 300 lainnya disiapkan oleh panitia.


Fr. Martin Wukak, SVD (Sutradara) Sedang Memberikan Ucapan Terima Kasih kepada Para Penonton yang Datang Menonton.

Antusiasme dan dukungan terhadap acara ini bukan hanya datang dari umat stasi Nara, melainkan juga datang dari berbagai daerah yang mengenal dan mengetahui stasi Nara. Mereka menyumbangkan uang via transfer ke rekening panitia penyelenggara. Ada juga yang meminjamkan tenda-tenda kepada panitia untuk digunakan pada saat hari pementasan.


Para Aktor dan Aktris Teater “Ketika Tuhan Bangkit” Membagikan Obor kepada Penonton.

Para aktor dan aktris teater “Ketika Tuhan Bangkit” berjumlah 40 orang yang terdiri dari 3 (tiga) orang Frater dan selebihnya OMK Stasi Bei – Nara. Aktor dan aktris OMK Stasi Bei – Nara terdiri dari berbagai tingkat pendidikan: SMP, SMA, dan PT (Perguruan Tinggi), serta ada juga yang sudah bekerja. Perbedaan tingkat pendidikan ini menjadi salah satu kendala yang dialami selama latihan.



“Pengalaman selama latihan itu seru sekali. Kadang molor waktu karena menunggu aktor-aktris yang masih sekolah dan kuliah, serta yang kerja tugas”, ucap Amelia yang berperan sebagai ibu Yesus. Amelia, mahasiswi Program Studi (Prodi) Desain Komunikasi Visual (DKV) pada Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero, menyampaikan, Fr. Martin Lamaroang, SVD dan Fr. Martin Wukak, SVD., sutradara teater, sangat sabar dalam membimbing dan melatih teman-teman aktor-aktris, terutama OMK, karena baru pertama kali mengikuti teater.


Fr. Martin Lamaroang, SVD., Sutradara Teater “Ketika Tuhan Bangkit”.

“Saya sangat bangga dengan para aktor dan aktris teater ini. Mereka sangat semangat untuk melakoni adegan-adegan yang ada,” ujar Fr. Martin Lamaroang, SVD.


Menurut Fr. Martin Wukak, SVD., teater “Ketika Tuhan Bangkit” itu mengangkat realitas yang terjadi di tengah masyarakat saat ini. Bahwasanya, tambah Fr. Martin Wukak, SVD., manusia zaman ini, khususnya kaum remaja, cenderung lupa akan identitas budaya.



“Kami melihat realitas yang sedang terjadi saat ini, yaitu banyak kaum remaja menghabiskan waktu berjam-jam untuk scrolling TikTok dan mabuk-mabukan. Waktu untuk membaca dan mempelajari sesuatu hampir tidak ada, apalagi kegiatan yang berkaitan dengan pengembangan iman. Kaum remaja lebih banyak terbawa arus perubahan yang ada dan tidak sedikit dari mereka yang tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikan diri dalam menyikapi perubahan yang ada. Oleh karena itu, melalui teater ini, kami ingin menyadarkan serta membuka mata para penonton untuk melihat terang yang Tuhan berikan melalui kebangkitan-Nya tidak hanya untuk orang tertentu, tetapi untuk semua orang, supaya terang itu juga bisa membuka mata semua orang terhadap realitas yang terjadi saat ini. Itu dilambangkan dengan obor yang dipegang oleh para aktor dan aktris, kemudian diberikan kepada para penonton,” ungkap Fr. Martin Wukak, SVD.


Amelia (Berperan sebagai Bunda Maria) Sedang Bermonolog dan Fr. Yanssen Tefa, SVD (Berperan sebagai Yesus) Sedang Berdiri sambil Mengikuti Alur Monolog Amelia.

Pentas seni musik dan teater itu disponsori oleh Komsos Keuskupan Maumere, Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero, dan Unit Mikael Ledalero. Pentas seni musik dan teater itu disiarkan secara langsung oleh Komsos Keuskupan Maumere melalui akun YouTube Komsos Keuskupan Maumere.


Umat yang berada di Stasi Bei - Nara mengaku puas dengan hasil pementasan musik dan teater yang berada di bawah tanggung jawab Rm. Yohanes Berchmans Bajo, Pr.

Romo Jhon Bajo, Pr (Pastor Paroki Hati Yesus Yang Mahakudus, Ili) Sedang Memberikan Sambutan sekaligus Membuka secara Resmi Pentas Seni Musik dan Teater.

“Kerja keras yang kami lakukan selama ini dan segala pengorbanan dari berbagai pihak telah terbayar tuntas. Bahkan, hasil penggalangan dana ini di luar perkiraan kami. Hasil yang diperoleh itu tidak akan dipotong dengan anggaran yang telah dikeluarkan oleh panitia maupun umat stasi. Uang yang dikumpulkan panitia untuk penyelengaraan acara tersebut dihitung sebagai sumbangan untuk renovasi Kapela Stasi St. Maria Fatima Bei - Nara,” tutur Bapa Paul, salah satu panitia penyelenggara pementasan.


Pater Kanis Bhila, SVD (Kedua dari Kanan) bersama Mikael Band Sedang Menyanyikan Lagu “Rumah Kita”.

Pentas musik dan teater itu memperoleh hasil puluhan juta. Hasil itu didapat dari penjualan tiket yang berharga: VVIP = Rp. 250.000; VIP = Rp. 100.000; Kelas Ekonomi = Rp. 50.000; dan Biasa = Rp. 10.000 – Rp. 49.000. Di samping itu, ada yang memberikan sumbangan secara langsung di tempat pementasan. Ada juga yang memberikan sumbangan melalui nomor rekening panitia penyelenggara.


Penulis: Ecan Hasman, SVD

Editor: Ricky Mantero, SVD

41 views0 comments

Comments


bottom of page