Teater “Aporia” di Penghujung Tahun 2025: Refleksi dan Harapan Baru dari Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero
- seminaritinggileda
- Jan 1
- 3 min read

Di penghujung tahun 2025, Rabu (31/12), Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero menggelar acara tutup tahun sekaligus menyongsong Tahun Baru 2026.
Bertempat di Aula Thomas Aquinas, perayaan ini tidak hanya diisi dengan seremoni biasa, melainkan juga sebuah pementasan teater reflektif bertajuk Aporia yang dipersembahkan oleh kelompok teater Aletheia.
Pementasan teater Aporia dihadirkan sebagai ruang refleksi bersama atas perjalanan hidup sepanjang tahun 2025, sekaligus sebagai jembatan menuju tahun yang baru.
Sejumlah umat dari lingkungan sekitar Seminari Ledalero turut hadir dan larut dalam suasana permenungan yang dibangun melalui pementasan tersebut.
Judul Aporia, yang terdengar filosofis dan sarat makna, dipilih secara sadar untuk menggambarkan gejolak batin manusia di tengah situasi hidup yang tidak selalu mudah dipahami.
Frater Martin Wukak, SVD, Wakil Ketua kelompok Aletheia sekaligus penulis naskah, menjelaskan bahwa teater ini merupakan ekspresi atas dinamika kehidupan yang dialami sepanjang tahun 2025.
“Aporia dimaknai sebagai ekspresi kebingungan tentang sesuatu, tentang keadaan dan situasi yang tidak jelas, sebuah keputusan yang belum menjawab sebuah pertanyaan,” ujarnya.
Sementara itu, sutradara pementasan, Frater Dangker Hayon, SVD, memperjelas makna Aporia melalui simbolisasi yang kuat.
Ia menggambarkan sosok seorang gadis yang membasuh diri dan orang-orang di sekitarnya dengan air keruh sebagai metafora manusia yang berada dalam kebingungan.
“Situasi sepanjang tahun 2025 yang dipenuhi dengan berbagai keterlukaan, seperti bencana letusan Gunung Ile Lewotobi, banjir di Mauponggo, hingga sejumlah bencana di Sumatera, menjadi latar belakang utama pementasan ini,” jelasnya.
Dengan nada reflektif, Fr. Dangker menambahkan bahwa kebingungan yang dihadirkan dalam pementasan ini tidak dilepaskan dari tanggung jawab manusia.
“Kebingungan tentang bencana yang hadir sepanjang tahun 2025 sebenarnya lebih banyak diakibatkan oleh ulah manusia, bukan semata-mata oleh alam, apalagi oleh Tuhan,” tegasnya.
Melalui adegan-adegan simbolik dan monolog yang sarat makna, para pemeran berhasil menggugah kesadaran para penonton. Aula Thomas Aquinas pun dipenuhi suasana hening dan permenungan.
Audiens diajak untuk menyadari bahwa berbagai musibah yang terjadi bukan sekadar takdir, melainkan cermin dari kelalaian dan pilihan manusia itu sendiri.
Bruder Ito Benggu, SVD, mantan anggota kelompok Aletheia, mengungkapkan kesan mendalam usai menyaksikan pementasan tersebut.
“Teater ini memiliki makna yang sangat kaya untuk direfleksikan. Melalui teater ini, saya semakin sadar bahwa banyak bencana sepanjang tahun 2025 sebenarnya adalah ulah kita manusia,” katanya.
Harapan akan perubahan juga disampaikan oleh Frater Kevin Leta, SVD, penghuni Wisma Arnoldus Janssen Nitapleat yang memiliki ketertarikan pada dunia sastra. Ia berharap pesan teater ini tidak berhenti pada refleksi semata.
“Melalui teater ini, kita semua diingatkan agar di tahun 2026 mendatang kita lebih peka dan semakin mencintai lingkungan,” ungkapnya.
Usai pementasan teater Aporia, acara dilanjutkan dengan ibadat singkat bersama yang dipimpin oleh Frater Bona, SVD, penghuni Wisma Beata Helena.
Dalam renungannya, ia mengajak para konfrater untuk memaknai setiap pengalaman hidup dengan sikap iman dan pengharapan.
“Kita mesti memaknai semua pengalaman sepanjang tahun 2025. Hal-hal baik kita pertahankan, yang kurang baik kita tinggalkan, supaya di tahun 2026 hidup kita sungguh menjadi lebih baik,” tuturnya.
Acara tutup tahun ini ditutup dengan momen sederhana namun mengharukan, ketika seluruh peserta saling memberikan salam damai.
Di tengah kebingungan dan refleksi atas perjalanan tahun yang berlalu, Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero, melalui kelompok Aletheia, berhasil menanamkan benih kesadaran dan harapan baru, bahwa di balik setiap aporia kehidupan, selalu terbuka kesempatan untuk bertumbuh dan melangkah lebih baik di tahun 2026.*
*Fr. Gonsi Kusman, SVD




Comments